Thursday, April 14, 2011

HIJRAH : Translokasi Pusat Manajemen Risalah

Pemaknaan atas hijrah sangat sering diimprovisasi dengan semangat yang dominan pada sebuah tuntutan kebutuhan aktual. Misalnya, kita harus berhijrah dari keterbelakangan kepada kesungguhan untuk maju, dari kebodohan kepada melek pendidikan, dari kehidupan yang ‘gagap’ teknologi ke suasana yang akrab dengan aplikasi ICT (Information and Communication Technology : Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK) . Atau, bahkan yang lebih umum lagi adalah berhijrah dari keburukan kepada kebaikan, mengubah perilaku maksiat menjadi aktivitas kesalehan, dll. Pernyataan yang cenderung definitif seperti ini tentu tidak salah, namun belum sepenuhnya benar.

Nuansa penyempitan makna (peyorasi) memang sangat susah dihindari ketika sebuah realitas diintroduksi dengan kekentalan pendekatan etimologis (makna bahasa). Apalagi untuk menjelaskan sebuah peristiwa historis, khususnya hijrah yang amat fundamental dan sekaligus monumental. Karena terdesak oleh tantangan kehidupan global, ada kekhawatiran jangan sampai nilai – nilai Islam yang diyakini demikian kuat tercerabut dalam konstruksi sosial kekinian. Konsekuensinya, kesegeraan mengaitkan makna hijrah dengan realitas aktual dalam pemaknaan seperti itu menjadi keniscayaan bagi mereka yang selalu ingin menunjukkan betapa Islam merupakan solusi dalam setiap etape kehidupan. Padahal, mereka telah melakukan sebuah pendangkalan makna karena kegagalannya mengaktualisasikan ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka seolah ingin menutupi hal itu dengan pemaksaan formal – verbalistik. Sebuah justifikasi sosio – antropologis yang minim substansi, mencabik – cabik holistikasi dan bahkan menutup mata atas universalitas makna hijrah itu sendiri.Dalam perjalanan sejarah dan da’wah Islam, hijrah dipahami sebagai berpindahnya markas perjuangan ummat dari Mekah ke Medinah. Sebuah alternatif ideologi politik yang sarat dengan pertimbangan aktual dengan visi yang signifikan. Jangankan pendekatan etimologis, pendekatan terminologi pun tidak cukup representatif mengetengahkan deskripsi maknawi tentang hijrah yang merupakan peristiwa sejarah yang agung itu. Seperangkat setting latarbelakang, pengggalian aspek sosial budaya dan kondisi geopolitik di sekitar Mekah saat itu merupakan bagian integral yang tidak bisa dieliminir. Dengan demikian, setiap generasi dan peminat sejarah kemanusiaan akan memahami kalau hijrah itu bukan migrasi, apalagi transmigrasi.

Kronologi Perjuangan Rasul

Bangunan keislaman dalam diri setiap ummat Islam selalu diawali denga fundasi aqidah, komitmen suci tentang ketuhanan Allah swt. yang merupakan sumber dari segala eksistensi, peran, fungsi dan penataan kehidupan semesta. Para Nabi dan Rasul dibangkitkan, diutus dan tampil mengemban tugas – tugas delegasional untuk memelihara dan terus – menerus meningkatkan kemuliaan kehidupan makhluq di jagat raya. Muhammad saw. adalah rasul pamungkas yang telah melakukan pembelajaran yang menyeluruh dan sistematik. Pengajaran ibadah praktis dan pencerahan akhlaq merupakan agenda lanjutan untuk meraih kepribadian Islami.

Namun, dalam ranah sosial kemasyarakatan yang melibatkan aneka ragam multi-komunitas, praktek keberislaman sebagai upaya pelayanan ummat dan penataan kehidupan yang lebih luas, harus dikelola sedemikian rupa sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Manjemen perjuangan diterapkan di sini dan konsolidasi strategi da’wah otomatis menyertainya. Sejak diangkat menjadi rasul hingga meninggal dunia, Muhammad saw. mengelola kehidupan ummat sekitar 23 tahun, yang terbagi dalam Periode Mekah (13 tahun) dan Periode Madinah (10 tahun). Hijrah merupakan simpul konektor antara kedua periode tersebut, sehingga dapat dikatakan sebagai alternatif kesinambungan periode Mekah dan sekaligus basis bagi pengorganisasian kegiatan da’wah dalam Periode Madinah.Semua firman Allah swt. yang disampaikan kepada Muhammad saw. sebelum peristiwa hijrah dinamai kelompok ayat – ayat makkiyyah (sekalipun turunnya bukan persis di Mekah), sedangkan yang setelahnya disebut kelompok ayat – ayat madaniyyah ( sekalipun turunnya bukan persis di Medinah). Periode Mekah adalah masa penanaman aqidah dan penggemblengan iman(capacity building) bagi segenap pengikut Rasul, sementara periode Madinah adalah masa perjuangan holistik untuk menegakkan pilar – pilar ajaran Islam dalam kehidupan bernegara, termasuk jihad berupa perang bersenjata. Adalah fakta yang tak terbantah bahwa hijrah merupakan momentum sejarah yang sangat menentukan keberhasilan da’wah dan perjuangan Islam. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ajaran Islam sampai pada kehidupan kita dewasa ini hanya karena dilaksanakannya hijrah oleh Rasul ketika itu.Al Qur’an mengabadikan strategi da’wah dan perjuangan Rasulullah saw. dengan model Trilogi Iman, Hijrah dan Jihad (IHJ). Trilogi IHJ ini dapat ditemukan dalam Al Qur’an. Misalnya QS.02:218.






Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Alur bahasa yang sama juga terdapat pada 4(empat) ayat yang lain, yaitu: QS. 08:72,74-75 dan 09:20.

Pada masa awal Islam, beberapa sahabat menyambut da’wah Rasul yang kemudian terkenal dengan kualitas keimanannya. Ammar Bin Yasir,ra. adalah pengikut nabi yang rela menanggung risiko dengan penyiksaan atas keluarganya hingga Ibundanya (Summayah) meninggal dunia karenanya. Bilal Bin Rabah,ra. mengusung aqidah Islam dengan mengorbankan pekerjaannya sebagai karyawan di salah satu perusahaan perkebunan. Lebih dari itu, bahkan ia rela ditindih batu besar di padang pasir yang panas di bawah terik matahari yang sangat pans di siang bolong. Sebongkah keyakinan demikian kuat dan mengkristal, sekalipun dengan pengetahuan yang amat terbatas, sehingga setiap Bilal ditanya tentang alasan mengikuti agama Rasul, jawabannya hanya satu kata:”Ahad” – sifat Allahswt. Yang Maha Esa, Tuhan yang diyakininya sebagai Yang Maha Benar dengan segala firman-NYA.

Mush’ab Bin Umair, ra. adalah pemuda ganteng dengan penampilan parlente, yang selalu tampil rapih dan eksotis serta amat sayang dan hormat pada orangtuanya, terutama ibu kandungnya. Setelah memahami dan mengimani Islam dari Rasulullah saw., maka dia selalu mengajak orangtuanya agar segera bergabung dengan kafilah agama Allah itu. Namun, ternyata mereka tetap bersikukuh pada ajaran nenek moyang yang dianutnya. Maka kemudian, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat, Mush’ab memutuskan berpisah dengan orangtuanya dengan konsekuensi segala kebutuhanya diembargo. Mush’ab pun rela berpakaian compang – camping dengan menanggung berbagai dampak psikologisnya.

Terlebih lagi Ali Bin Abi Thalib, yang bukan hanya dikenal dengan semangat muda yang berani dan perkasa, tetapi juga pelopor utama dalam memeluk ajaran Islam. Dialah laki – laki pertama yang menyatakan diri sebagai penganut agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., termasuk mendahului 3 dari Khulafaur Rasyidiin, ketika usianya baru 12 tahun. Selain itu, ia dikenal dengan kecerdasannya yang sangat menonjol di antara para sahabat, sehingga Nabi mengatakan : “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu, maka ia harus mendatanginya melalui pintunya”.Pribadi – pribadi militan, imani dan cerdas seperti itulah yang mengawal da’wah Nabi di Mekah ketika itu. Mereka menyambut dengan nurani yang mencerahkan pola pikir dan mengendalikan tingkah laku. Mengembangkan kiprah keimanan dengan pandangan dunia (world view) profetik, yakni konsistensi pada aturan Ilahi dengan kepasrahan total kepada-Nya, seperti yang diwariskan oleh para nabi dan rasul. Mereka tidak bergeming sedikit pun dengan tawaran duniawi dan kepentingan kekuasaan. Mereka sangat terkendali dalam pusaran arus tahta, harta dan wanita, sehingga sangat susah untuk dijebak hanya dengan rekaya skandal yang beraroma kepentingan sesaat. Mereka mengimani rasul karena kebenaran ajarannya, bukan karena subjektivitas personalnya. Mereka mendatangi rasul bukan karena diiming – iming fasilitas tertentu dalam bingkai koalisi, justru menghadapkan diri mereka dengan kesiapan berkorban harta dan jiwa mereka sekalipun.



Mereka tidak pernah menyambut sabda rasul dengan spekulasi penghindaran (eskapisme), tetapi dengan ungkapan “sami’na wa’atha’na”. Sebuah ungkapan komitmen yang ditopang oleh konsistensi kesiapan menerima dan menghadapi segala bentuk konsekuensi kehidupan. Sosok yang demikian ini menjadi magnet konsolidasi perjuangan dan da’wah nabi, sehingga pertambahan kuantitas pengikut risalah secara langsung meningkatkan instabilitas sosial, kecemasan psikologis dan keterancaman ideologis kalangan kafir Quraisy di Jazirah Arab.



Rencana Pembunuhan Nabi

Sosok – sosok pilihan itu memang susah dihentikan geliat da’wah dan perjuangannya mengusung misi Islam. Lantaran mereka sangat mencintai rasul dengan risalah yang dibawanya, maka mereka pun patut menyaksikan indikasi kecintaan yang berkorelasi dengan pengorbanan. Dengan sadar dan cermat, logika pengorbanan mereka menyaksikan bahwa apa yang merka lakukan belum seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan rasul dalam memperjuangkan risalah kebenaran.

Masih di Mekah, bahkan sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi telah ditinggalkan oleh Khadijah al Kubra – isteri, pendamping dan sekaligus pendukung terkuat yang secara total menopang segenap program da’wah dan perjuangannya. Abu Thalib – paman dan sekaligus penjaga ring pertama keselamatan sosial kemanusiaanya pun telah meninggal dunia. Pada saat yang sama, bahkan kalangan kafir Quraisy mengembargo segenap kebutuhan ekonomi Muhammad saw. dan para pengikutnya. Namun, itu semua tidak mnyurutkan sedikit pun semangat Nabi mennjalankan perjuangan yang diamanatkan oleh Allah swt. Inilah sumber energi yang membangkitkan dinamika juang dalam dada para sahabat, sehingga mereka tak kenal mundur, apalagi menyerah. Segala potensi digerakkan, da’wah dikembangkan dan nilai – nilai mulia keislaman dimplementasikan dalam setiap sektor kehidupan.

Pada tahun ke-5 kenabian, hijrah pertama dilakukan ummat Islam dengan mendatangi Habasyah (Abessinia, Ethiopia). Bahkan ke tempat ini dilakukan sebanyak dua kali. Pertimbangannya semata – mata adalah untuk mengamankan ummat dari ancaman kafir Quraisy sambil tetap melaksankan program da’wah yang memenag harus dipelihara kesinambungannya. Bertepatan juga bahwa Najasy – raja Habasyah saat itu, seorang Nashrani yang masih konsisten pada ajaran kehanifan, sangat bersimpati pada ummat Islam yang sedang dizhalimi. Berikutnya, Tha’if adalah tempat kedua yang menjadi target hijrah. Sekalipun Nabi dan para sahabat dilempari batu, namun dengan semangat dan komitmen da’wah dan perjuangan Islam yang demikian kuat, maka sosialisasi syi’ar pun tetap dijalankan.

Kepemimpinan Nabi yang diiringi dengan konsolidasi dan mobilisasi perjuangan para sahabat membuat suasana Jazirah Arab kian terakomodasi menuju citra kehidupan tauhid. Nuansa ini tentu sangat tidak diharapkan orang – orang kafir, terutama yang berperan sebagai pemimpin suku dan kabilah. Sampai akhirnya mereka melakukan evaluasi aktual dengan melakukan pemantauan spionase intelijen. Hasil pemantauan kemudian dilaporkan dalam rapat strategis terbatas yang menyimpulkan bahwa demi mempertahankan ideologi kafir Quraisy, maka gerakan da’wah dan perjuangan Muhammad harus dihentikan.

Dalam kamus operasi intelijen militer, upaya mengeliminir pengaruh musuh yang direpresentasikan oleh figur personal, biasa diberlakukan skenario sandi 3B (Bui, Buang, Bunuh), yang berarti memenjarakan, mengusir atau menghabisi nyawanya sekalian (QS.08:30). Dua opsi pertama, yakni memenjara atau mengusir (membuang, mengasingkan) Muhammad ke luar wilayah Jazirah Arab sebenarnya bisa dilakukan. Namun mereka sangat sadar kalau keduanya tidak akan efektif, atau bahkan bisa menjadi bumerang. Argumentasinya sangat logis dan transparan.

Pertama, Muhammad menguasai psikologi komunikasi dan strategi pendekatan personal. Dalam penjara banyak anak ‘nakal’ dan ‘bandel’, yang sebenarnya adalah pemuda kreatif yang membangkang karena tidak bertemu dengan figur pembimbing yang arif dan kompeten. Kalau mereka bertemu dengan Muhammad pasti terjadi kaderisasi dan boleh jadi otomatis terprovokasi, yang dengan militansi dan kreativitasnya, Muhammad dan para pemuda narapidana itu akan melabrak gedung penjara dan melakukan kudeta tak berdarah. Karena itu, sangat berbhaya kalau Muhammad dipenjara.

Kedua, kalau Muhammad diusir, maka ia akan bertemu dengan massa yang lebih besar dalam wilayah ruang publik yang sangat terbuka di luar pusat pemerintahan. Dengan magnet interaksi dan komunikasi yang melekat padanya, Muhammad sangat mudah menarik perhatian khalayak melalui perlakuan psikologi komunikasi massa. Dalam waktu yang relatif singkat, pengikut Muhammad pasti kian bertambah, yang kemudian bisa bersepakat mengelola wilayah sendiri, memutuskan hubungan struktural dengan pemerintah pusat dan bahkan berpotensi mendirikan negara bagian. Makanya, niat untuk mengusir dan mengisolir Muhammad harus diurungkan. Lantas, untuk menghentikan gerakan da’wah dan perjuangan Muhammad, tidak ada cara lain yang paling tepat dan efektif, kecuali dengan “membunuhnya”. Memutuskan opsi ketiga dari skenario 3B, sebuah alternatif penuh kegetiran, namun harus ditempuh.

Informasi rencana pembunuhan atas diri nabi tersebar ke khalayak dan sampai ke telinga nabi. Bersama Ali dan Abu Bakar, Nabi melakukan pertemuan di rumahnya. Serta – merta rumah Nabi sudah dikepung oleh pasukan kafir Quraisy yang mewakili seluruh kabilah yang telah menghadiri rapat analisis laporan intelijen itu. Sementara rumahnya dalam suasana dipagar betis dengan komando siaga satu seperti itu, nabi memutuskan untuk meninggalkan Mekah menuju ke Madinah. Praktis, Nabi akan menghadapi salah satu di antara dua kondisi, yaitu lolos atau tertangkap, hidup atau mati terbunuh. Namun, nabi hanya membicarakan kemungkinan lolosnya untuk mengatur strategi dan taktik selanjutnya, sementara kematian tidak termasuk agenda penting dan urgen yang perlu beliau bahas.

Kalau Nabi lolos, dibutuhkan sebuah trik yang bisa membuat segenap anggota pasukan pagar betis tidak segera mengetahui kepergian Nabi. Makin besar delay time yang mereka alami tentu dampaknya makin aman bagi perajalanan Nabi. Untuk itu, harus ada orang yang menggantikan nabi di tempat tidurnya, begitu beliau meninggalkan rumah. “Siapa yang bersedia ?”, tanya Rasul. “Saya, Ya Rasulullah”, kata Ali Bin Abi Thalib, ra. Jawaban Ali yang menyambut pertanyaan Rasul itu ternyata merupakan kata kunci yang dijadikan starting point Nabi untuk bergegas melangkah dalam konteks hijrah.

Dengan izin Allah swt., ternyata Rasulullah saw berhasil menyelinap di antara pasukan pagar betis itu tanpa dideteksi sama sekali. Begitu terkesiap setelah tertidur hingga pagi hari, salah seorang dari mereka langsung merapat masuk dan menyaksikan kalau masih ada orang di tempat tidur Nabi. Orang tersebut mengendap – endap dengan langkah yang diperlambat sampai akhirnya mengetahui kalau yang berada di dalam tempat tidur itu adalah Ali. Pasukan itu pun segera berusaha menyusul Nabi. Di gurun pasir mereka merasa terbantu dengan mengikuti jejak kaki Nabi. Namun apa lacur, karena ternyata itu adalah jejak kaki arah mundur yang sengaja dibiarkan oleh Abdullah – salah seorang intel Nabi – setelah menghapus dan mengaburkan jejak kaki yang arah maju sesuai tujuan perjalanan hijrah Nabi. Ini adalah delay time kedua yang membuat pasukan tersebut makin ketinggalan untuk membuntuti Nabi.

Anggota pasukan itu belum juga putus asa hingga menghampiri mulut Gua Tsur – tempat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi. Mereka mengendus keberadaan Nabi di dalam gua tersebut karena mendengar suara jeritan kecil dari dalam. Namun, dengan akal sehat yang mendasari penolakan salah seorang di antaranya, kemudian mereka kembali ragu. Betapa tidak, karena di mulut gua itu terdapat jejaring sarang laba – laba yang masih utuh. Itu pertanda bahwa mustahil ada orang yang telah masuk ke gua tersebut (padahal sarang laba – laba itu terbentuk segera setelah nabi masuk ke dalam gua, dengan izin Allah swt.). Akhirnya anggota pasukan itu pulang dan Nabi terhindar dari gangguan mereka. Nabi saw.kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah, sementara Ali Bin Thalib ra. menyusul satu minggu kemudian.

Kesiapan dan keikhlasan Ali untuk mengorbankan jiwa raganya karena kecintaan kepada Allah swt.( semata – mata hanya mengharapkan ridha-Nya), Rasulullah saw. dan risalahnya, menjadi asbabun nuzul ayat Al Qur’an, QS.02:207. , sebagai berikut :




“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Nilai Strategis Hijrah

Dengan mengamati fenomena sosial politik dan ideologi di Mekah pra-hijrah serta menganalisis dampak logis kesinambungannya, maka akan ditemukan sejumlah nuansa strategis dengan nilai pembelajaran yang amat tinggi untuk pengelolaan program da’wah dan perjuangan. Pertama, hijrah adalah pelembagaan komitmen pemihakan pada prinsip tauhid yang merupakan amanah universal dalam kehidupan manusia di muka bumi. Karena itu, hijrah menjadi alternatif ketika Muhammad saw. tidak lagi diberikan ruang sedikitpun untuk melaksanakan program da’wahnya di Mekah. Bukan karena takut mati – karena dalam islam, apalagi bagi Rasul, kematian adalah suatu keniscayaan pada saatnya. Akan tetapi, karena sebuah tuntutan untuk mengawal keberlanjutan da’wah, untuk mengajak manusia kepada kebenaran dengan mengimani, mengamalkan dan memperjuangkannya. Juga, bukan karena tidak punya nyali menghadapi musuh, melainkan karena pengikut nabi belum memenuhi sayarat untuk menggelar pertempuran (baik man power, maupun material power, keduanya masih sangat terbatas. Sementara, dalam hal mempertaruhkan nyawa, nabi terkenal sebagai pemimpin perang yang berani dan pernah mengomandoi sebagian besar pertempuran melawan orang kafir di zamannya).

Kedua, dengan melaksanakan hijrah, dengan sendirinya para sahabat dan pengikut nabi pada umumnya dituntut untuk memahami kawasan regional di luar Mekah. Selain sebagai tantangan pemetaan wilayah dan penguasaan informasi sektoral, para sahabat pun ditantang membangun jaringan pendukung yang memungkinkan dilakukannya perluasan target da’wah di kemudian hari. Pemantapan visi geopolitik , otomatis terjadi di sini. Apatah lagi bahwa ajaran tauhid harus diupayakan sosialisasinya kepada seluruh ummat manusia. Ketiga, dengan dilaksanakannya hijrah, maka akan segera ketahuan kategori dan kualifikasi sahabat dalam konteks urgensi penguatan orientasi perjuangan Islam. Dalam kaitan ini, seleksi dan pacuan motivasi kejuangan yang ditandai dengan indikasi pengorbanan dan kecintaan pada Rasulullah saw. dan risalahnya semakin transparan, sehingga evaluasi diri (muhasabah) sangat mudah dilakukan oleh setiap pihak dengan mengedepankan integritas dan keikhlasan.

Keempat, hijrah menjadi tantangan aktual bagi para sahabat untuk menunjukkan komitmen dan kompetensi serta mengembangkan kualitas personalnya, terutama ketika harus membantu nabi membangun struktur masyarakat Islam di Madinah. Tercatat dalam sejarah, antara lain, kecemerlangan Abdurrahman Bin ‘Auf membangun sistem perekonomian dan mengelola pasar potensial di Madinah dengan kontribusi langsung pada peningkatan volume perbendaharaan Negara secara signifikan. Juga kemudian, Salman Al Farisi, yang terkenal dengan disain palanogi – tata ruangnya, sebagai arsitektur Perang Khandaq, yang membantu pemenangan pasukan Islam melalu rancang bangun parit yang dibuatnya untuk mengamankan pertahanan ummat Islam dalam mengantisipasi serangan musuh.

Kelima, hijrah pun melahirkan suasana dan menawarkan media bagi terlaksananya sejumlah ajaran Islam yang telah diterima sebagai syariat dalam menjalani kehidupan keluarga dan sosial kemasyarakatan. Bagaimana membangun pribadi berkualitas berorientasi sosial, pola interaksi antara keluarga dan masyarakat, penataan kehidupan atas nama persudaraan (AnsharMuhajirin), perwujudan kepedulian, mobilisasi infak serta rintisan sistem pelayanan publik – termasuk dalam konteks keragaman, semuanya mendapatkan ruang setelah hijrah dilakukan oleh nabi. Penegakan pilar hukum dan keadilan, pengayoman sosial kemasyarakatan, penguatan daya juang dan konsolidasi manajemen pelayanan kerahmatan semesta, akan terakomodasi secara proporsional.

Keenam. Sekalipun pada kenyataannya hijrah merupakan sebuah translokasi atas manajemen risalah yang diusung oleh nabi sebagai amanah Ilahi, namun sama sekali tidak bisa disebut sebagai penghindaran dari tantangan perjuangan. Justru dalam kondisi yang masih sangat terbatas akan penguasaan atas seganap sumberdaya, hijrah merupakan operasi kontra – strategis yang dipermaklumkan di hadapan kafir Quraisy – yang sudah sangat siap dengan perlengkapan perangnya. Dengan kualitas intelektual dan spiritual yang sangat handal dalam balutan semangat juang berbasis kearifan, keikhlasan dan kematangan analisis, keputusan nabi berhijrah adalah sebuah “smart solution” pada tataran kontekstual gerakan ideologi yang sedang merawat kristalisasi dukungan potensial.

Sebagai sumur pencerahan dan mata air kecemerlangan, segala gerak, sepak terjang dan aktualisasi agenda risalah Rasul pasti sangat sarat dengan nilai, hikmah dan muatan pembelajaran. Karena itu, enam butir di atas hanyalah kuantifikasi sebuah penghampiran yang coba disentuhkan pada realitas gerakan da’wah dan perjuangan beliau, khususnya di seputar konteks hijrah. Khazanah derivatif (turunan) akan ditemukan lebih banyak lagi, manakala proses identifikasi diperdalam pada aspek yang lebih luas, termasuk dengan melihat korelasinya terhadap perjalanan waktu dan konteks kualifikasi kemanusiaan dalam rentang antropologi dan sosiologi historis.

Visi Da’wah dan Perjuangan

Sebagai jembatan yang menghubungkan dua periode perjuangan Nabi, sudah barang tentu hijrah merupakan bagian dari mata rantai kesinambungan perjuangan dan da’wah. Berkenaan dengan ini, hijrah adalah tonggak (milestone) yang secara hirarkial berfungsi sebagai pilar pendukung bagi aktualisasi agenda nabi selanjutnya. Dan sebagai mainstream dari sebuah megaproyek keummatan, hijrah pasti memiliki formulasi manajerial yang melibatkan berbagai faktor demi tercapainya kualifikasi martabat insani dalam konstelasi kerahmatan semesta.

Selain penegasan Ilahi dengan model “Trilogi IHJ” yang disebut terdahulu, ternyata hijrah itu sudah dirancang dalam sebuah strategi geopolitik dan diplomasi lintas kultural. Ketika da’wah dan perjuangan Islam masih berpusat dan diorganisir di Mekah, nabi telah memprakarsai “Baiat al Aqabah” (janji suci untuk setia dengan iman dan perjuangan Islam, di bukit Aqabah) sebanyak dua kali. Yang pertama diikuti 12 orang, sedangkan yang kedua pesertanya 70 orang, semuanya berasal dari Madinah (Bani Aus dan Khasraj) – yang nantinya melakukan konsolidasi untuk penyambutan Nabi dan para sahabat yang berhijrah. Komunitas inilah kemudian yang terkenal dengan julukan kaum Anshar (penolong), karena telah membantu saudara – sudaranya yang berhijrah (Muhajirin) dari Mekah.

Dengan mengacu pada fakta historis tersebut, perlu dipertegas bahwa hijrah merupakan agenda utama dalam strategi perjuangan visioner. Untuk itu, Nabi tidak hanya mengajak penduduk Mekah untuk memeluk Islam dengan menapaki pencerahan individual, tetapi lebih jauh, bahkan beliau merancang sebuah mekanisme “special recruitment” yang akan mengembangkan sayap perjuangan di wilayah “buffer zone” (daerah penyangga), terutama ketika kondisi pada pusat kendali perjuangan kurang stabil, apalagi terancam. Makin jelas bahwa ternyata Nabi tidak hanya berperan sebagai Imam di waktu shalat dan panglima di medan perang, sufi di waktu malam dan pendekar di siang hari, tapi juga ahli strategi perjuangan yang sangat visioner. Iman yang dipahaminya tidak hanya dikemas dalam mekanisme ritual subyektif atau instruksi verbalistik, melainkan sampai mengemuka dalam strategi ideologi lintas kawasan, yang mengakomodir potensi riil keummatan sebagai sumbu penyulut api perjuangan.

Ketika komitmen keimanan telah mencapai kristalisasinya yang signifikan, antara lain, ditandai dengan bersenyawanya tujuan hidup yang bersangkutan dengan Kemuliaan Ilahi, maka tantangan perlawanan yang kondisional harus disikapi dengan langkah hijrah. Perlu dilakukan penataan manajerial atas segenap sumber daya perjuangan yang pada gilirannya harus mampu mendeklarasikan barisan jihad (perjuangan, termasuk yang bersenjata) untuk memelihara dan mengamankan kesinambungan kemuliaan dan martabat kehidupan insani.

Jihad dalam hal ini tentu bukan terorisme yang terkadang disebarkan oleh zionisme internasional sebagai kolonialisasi terminlogis atas istilah hijrah yang amat mulia dalam Al Qur’anul Karim. Perang (angkat senjata) sebagai salah satu bentuk jihad pun hanya bisa dilaksanakan manakala seluruh bentuk komunikasi dan diplomasi preventif sudah dilakukan dan pada saat yang sama ummat Islam diposisikan sebagai target ofensif musuh. Tulisan ini tidak berprentensi mengulas terminilogi jihad. Hanya saja, penyebutannya di sini dimaksudkan sebagai penegasan bahwa hijrah tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian integral dari sebuah strategi kolosal perjuangan risalah : Iman, Hijrah dan Jihad.

Bahwa hijrah bermakna meninggalkan kejahatan dan beralih kepada kemaslahatan, pasti tidak bisa dianulir (terutama dalam suasana damai, ummat Islam tidak terancam musuh). Namun, yang demikian itu hanyalah salah satu percikan makna periferal dari konstruksi hijrah yang sangat sentral dan primer dalam aktualisasi keimanan seorang muslim, terutama dalam kerangka ideologi dan pandangan hidup (way of life). Dan salah satu tumor aqidah dalam penyakit ideologi yang menyerang ummat Islam dewasa ini adalah kecenderungan hilangnya sikap percaya diri untuk memahami hijrah dengan makna substansial yang sentral dan primer itu. Bahkan, sangat mudah bermetaforsis menjadi ketakutan kolosal yang dipagari dengan simbol otoritas keilmuan dengan hujjah tafsir skriptural yang melengkapinya. Stigma ini tentu harus dieliminir dengan hijrah pola pikir dan persepsi, hijrah metodologi analisis sejarah dan hijrah orientasi elaboratif agar memiliki kesiapan signifikan untuk menyelami dan menyerap nuansa dan pesan suci (holy message) “Hijraturrasul” yang sesungguhnya (yang berbeda dengan konteks hijrah ke Habasyah dan Tha’if, sebelumnya).

Dalam Al Qur’an, Surat An Nisa’(04):100, Allah swt. bahkan melegitimasi aktivitas hijrah sebagai agenda inheren bagi setiap insan yang dengan sungguh – sungguh ingin mempersembahkan kehidupannya sebagai pengabdian kepada-Nya, dengan motivasi dan sekaligus orientasi sbb:






“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat tersebut, hijrah dinyatakan dalam 2(dua) konteks. Pertama, hijrah merupakan gerak individual dengan perhelatan bernuansa spiritual, yang memetakan ketaatan atas hukum Allah swt. dalam segala aspek kehidupan. Kedua, hijrah sebagai perpindahan dalam ruang dan waktu , dilakukan oleh setiap hamba dari suatu tempat asal menuju tempat tertentu sebagai target, yang mensyaratkan perjuangan dengan segenap pengorbanan yang harus mengiringinya. Beranjak dari rumah individual menuju Allah dan Rasul-Nya. Rumah individual berupa bangunan fisik, basis keyakinan, format logika, nuansa persepsi dan visi subyektif harus dibenahi sedemikian rupa sehingga memenuhi kualifikasi spiritual pencerahan insani yang memungkinkan terserapnya cahaya Ilahiyah. Pada saat yang sama, melalui ayat itu Allah swt. menegaskan alur dan orientasi hijrah yang substansial. Yakni, dinamika pengabdian di jalan Ilahi di mana nuansa aktivitas insaniyah merupakan transformasi spiritual irfani. Sebuah pergelutan teosofi yang mengorganisir seluruh potensi individual kehambaan sebagai fasilitas, instrumen dan sumberdaya yang menopang proses pencerahan dan perjalanan spiritual menuju kepada Allah swt. sebagai tujuan hidup.

Komitmen dan nuansa hijrah yang demikian akan membentuk mentalitas dan personalitas seorang hamba yang akan selalu eksis dalam kesiapan melaksanakan amanah Ilahi kapan pun dan di mana pun. Sebuah kualifikasi karakter dengan ketangguhan pribadi yang secara total dipasrahkan ke haribaan Ilahi Rabbil Izzati.

Penulis : Abdul Hafid Paronda
Buletin Al-Fatah Vol.1 No.2 Desember 2009

Wednesday, March 30, 2011

Buletin Al Fatah

Buletin Al Fatah Vol.1 No.1 Agustus 2009
















Buletin Al Fatah Vol.1 No.2 Desember 2009















Buletin Al Fatah Vol.2 No.1 Agustus 2010














Buletin Al Fatah Vol.2 No.2 Desember 2010

Sunday, March 27, 2011

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU DESTRUKTIF MANUSIA DENGAN TERJADINYA BENCANA MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN


Abstraksi:

Tujuan tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan mengenai hubungan antara perilaku destruktif manusia dengan terjadinya bencana menurut pandangan Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah metode tafsir. Menurut Al-Hafiz al-Suyuthi dan al-Zarkasy, tafsir adalah ialah ilmu untuk memahami kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya. Karya tulis ini menawarkan perspektif bahwa bencana disebabkan oleh ulah perbuatan manusia yang destruktif (merusak). Perilaku destruktif itu meliputi perusakan alam, perbuatan dosa dan maksiat, kezaliman, kefasikan, dan kekufuran baik dilakukan secara individu maupun sosial. Studi ini menunjukkan bahwa perilaku destruktif manusia dapat memberikan pengaruh negatif terhadap alam dan manusia itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meminimalisir terjadinya bencana, maka manusia hendaknya menghindari perilaku destruktif itu. Al-Qur’an menjelaskan bahwa selain memiliki sisi konstruktif dan positif, manusia juga memiliki sisi destruktif dan negatif . Sisi destruktif dan negatif itulah yang menyebabkan terjadinya bencana. Dengan diakuinya sisi destruktif manusia yang dapat menyebabkan terjadinya bencana, maka tulisan ini dapat membantah kepercayaan bahwa bencana semata-mata disebabkan oleh azab Tuhan dan tanpa ada sebabnya. Makalah ini mengakui bahwa Tuhan tidak akan menurunkan azab tanpa didahului oleh perbuatan destruktif manusia. Karya tulis ini menawarkan sebuah perspektif tentang bagaimana kejahatan manusia dapat menyebabkan terjadinya bencana alam dan siksa Tuhan sekaligus memberikan harapan (ekpektasi) bahwa bencana bisa diminimalisir bahkan dicegah bila manusia menghindari perbuatan destruktif.


Kata kunci: Al-Qur’an, Perilaku Destruktif, Bencana, Azab


Pendahuluan

Akhir-akhir ini berbagai bencana sering melanda bangsa kita. Bencana itu datang silih-berganti: tsunami di Aceh, banjir bandang di Wasior Papua; tsunami lagi di Mentawai; dan letusan gunung Merapi di Yogyakarta. Belum lagi bencana-bencana yang lain seperti gempa, banjir, longsor, lumpur Lapindo, tabrakan kereta api, jatuhnya pesawat dan seribu satu bencana lainnya. Sungguh negeri ini tak lepas dirundung malang, harta dan nyawapun tak sedikit melayang. Tak aneh bila ada orang yang menyebut negeri ini sebagai negeri “1001 bencana”. Walaupun sesungguhnya bencana tidak saja melanda negeri kita, negeri-negeri lainpun tak lepas dari bencana.

Bencana yang terjadipun sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan bahkan mitos. Dalam masyarakat primitif bencana sering dikaitkan dengan kemarahan para dewa; bencana karena melanggar tabu atau karena manusia tidak memberi persembahan (sesaji) pada leluhur. Kaum beragama bahkan penganut agama modern seperti Yahudi, Kristen dan Islam mengaitkan terjadinya bencana dengan murka atau azab Tuhan. Bagi mereka yang agnostik (tidak percaya Tuhan), mengatakan bahwa bencana hanya proses dan kejadian atau fenomena alam belaka. Dalam teks-teks keagamaan dan kepercayaan orang-orang beragama disebutkan pula bahwa Tuhan tidak serta merta mendatangkan bencana tanpa sebab musababnya. Bencana terjadi senantiasa disebabkan oleh perilaku destruktif manusia seperti keingkaran kepada seruan Tuhan, perbuatan dosa, kefasikan dan kezaliman. Di kalangan umat Islam pun ada berbagai perspektif mengenai bencana: sebagian berpendapat bahwa bencana hanya fenomena alam; sebagian orang berpandangan bahwa bencana semata-mata merupakan kehendak Tuhan; sebagian lagi berpandangan bahwa perilaku manusialah yang menjadi penyebab bencana. Karena itu dalam artikel ini akan dikaji mengenai hubungan antara perilaku destruktif manusia dengan terjadinya bencana menurut perspektif Al-Qur’an.

Metodologi yang digunakan adalah metode tafsir. Ada beberapa jenis metode tafsir, pertama metode tafsir bi al-riwayah. Metode ini menggunakan ayat Al-Qur'an untuk menafsirkan ayat Qur'an yang lain. Atau dalam ungkapan bahasa arab disebut "Al-Qur'an yufassiruhu ba'dhuhu ba'dhan" (Al-Qur'an itu menafsirkan sebagian ayatnya dengan sebagian ayat yang lain). Kedua, metode al-tahlili (analisis), yaitu dengan cara menguraikan ayat Al-Qur’an menurut urutan surat dalam al-Qur'an. Semua kitab tafsir klasik mengikuti model ini. Ketiga. metode tafsir maudhu'i (tematis), yaitu dengan cara memilih satu tema dalam al-Qur'an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Qur'an yang berkaitan dengan tema tersebut baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut. Misalnya, kita ingin tahu masalah bencana dalam Al-Qur’an. Maka kita himpun semua ayat yang berisikan kata bencana (dan segala derivasinya) lalu kita tafsirkan. Jadi, tafsir model ini bersifat tematis. Konon metode seperti ini dimulai oleh Muhammad al-Biqa'i dan Muhammad Baqir al-Shadr. Sedangkan di Indonesia Profesor Quraish Shihab yang pertama kali memperkenalkannya. Selain metode di atas digunakan pula metode tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode yang menitikberatkan pada pemahaman akal (ra'yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis namun porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasysyaf karya Zamakhsyari, tafsir Mafatih al-Ghaib karya Fakh ar-Razi, Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dan sebagainya. Metode tafsir ini dibagi lagi menjadi tafsir bi al-'ilmi (seperti menafsirkan fenemona alam dengan kemudian merujuk ayat Qur'an); tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat untuk membedah ayat Qur'an); dan tafsir sastra yang lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur'an. Model tafsir ini pada masa sekarang dikembangkan oleh Aisyah Bintusy Syathi. Di samping beberapa metode tafsir di atas bisa juga digunakan metode ijmali, yaitu usaha menafsirkan Al-Qur'an secara singkat dan global dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Selain metode di atas dapat pula digunakan metode tarikhi (hsitoris) yang merupakan salah satu metode yang dipakai dalam penelitian agama (Taufiq Abdulllah & M. Rusli Karim (ed.), 1989). Dengan menggunakan metode tarikhi kita dapat menggali sejarah terjadinya bencana yang pernah menimpa umat manusia pada masa yang lampau. Ibn Khaldun dalam bukunya Muqaddimah adalah salah seorang sarjana Islam brilian yang menggunakan metode tarikhi ketika membahas kejayaan dan kejatuhan (bencana) yang menimpa kerajaan-kerajaan Islam.

Berbagai metode tafsir di atas dapat digunakan untuk menafsirkan dan memahami Al-Qur’an karena sebagaimana dikemukakan oleh Syeikh Abdullah Darraz dalam kitabnya al-Naba al-‘Adhim, "Al-Qur'an itu bagaikan intan berlian, dipandang dari sudut manapun tetap memancarkan cahaya. Kalau saja anda berikan kesempatan pada rekan anda untuk melihat kandungan ayat Qur'an boleh jadi ia akan melihat lebih banyak dari yang anda lihat."

Dalam pembahasan makalah ini, penulis menggunakan metode-metode yang berkaitan dengan tema tersebut tidak terpisah-pisah (parsial), melainkan secara terpadu. Dengan kata lain, ketika membahas mengenai bencana menurut perspektif Al-Qur’an, penulis tidak menyebutkan secara khusus metode-metode di atas sehingga pembaca diharapkan dapat menelaah sendiri jenis metode yang digunakan penulis ketika membahas tema ini. Metode yang penulis gunakan dengan tidak menyebut secara khusus metode apa ketika membahas suatu ayat merujuk kepada metode Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan Tafsir al-Azhar karya profesor Hamka.

Adapun sumber yang digunakan adalah Kitab Al-Qur’an, Al-Qur’an dan terjemahannya baik terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, kitab-kitab tafsir karya para ulama serta sumber-sumber lain yang relevan dengan tema yang dibahas.

Perilaku Destruktif Manusia dan terjadinya Bencana

Yang dimaksud perilaku dalam bahasa Inggris behavior adalah respon atau reaksi yang dilakukan oleh makhluk hidup dalam situasi tertentu. Definisi lain perilaku adalah cara bertindak seseorang terhadap orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2007), perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Adapun kata destruktif dari bahasa Inggris destructive” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut Kartini (1992:2), perilaku destruktif merupakan tingkah laku yang dianggap sebagai tidak cocok. melanggar norma dan adat istiadat. atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum atau penyimpangan tingkah laku atau perilaku destruktif atau patologis. Hal senada dikemukakan Sumadi Suryabrata (1998) memandang Perilaku destruktif merupakan tingkah laku atau reaksi organisme sebagat keseluruhan terhadap perangsang dari luar yang menyimpang. Reaksi tersebut terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan jasmani tertentu, Jadi dapat diamati secara obyektif. Penyebab terjadinya perilaku destruksi antara lain karena tradisi, sikap hidup, emosi, kebiasaan dan filsafat hidup.

Menurut Hamid Abdul Khalik Hamid perilaku destruktif adalah tindakan melanggar norma yang dilatarbelakangi oleh faktor—faktor emosi yang terpendam, seperti prasaan minder atau benci terhadap pengekangan. Dengan demikian, maka tindakan destruktif ini merupakan gejala timbulnya rasa ingin balas dendam, atau ingin membuktikan eksistensi dirinya.

Menurut Ali Qaimi perilaku destruktif ditampakkan lewat perilaku dan sikap kasar, menentang, tidak suka, menolak, serta membantah keinginan tertentu. Manusia yang memiliki perilaku destruktif ini adalah orang yang cenderung meraih kebebasan absolut dan menolak berbagai aturan dan tatanan yang ada, terbiasa melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan norma-norma sosial, egois dan degil, sehingga tidak mempedulikan dan mengindahkan aturan serta norma yang ada.

Yang dimaksud perilaku destruktif di sini adalah melakukan perbuatan jahat baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam, ingkar terhadap aturan hukum dan norma baik norma agama maupun norma sosial, berbuat dosa baik secara individu maupun kolektif, ingkar pada kebenaran, melakukan tindakan fasik dan kezaliman. Menurut Tosihiko Izutsu dalam Konsep Etika Religius dalam Al-Qur’an yang termasuk perilaku destruktif adalah kufur (ingkar terhadap kebenaran dan terhadap nikmat Tuhan), fasik (durhaka) dan zalim. Salah satu perilaku destruktif menurut Izutsu adalah zalim. Dalam bahasa Inggris “zalim” biasanya diartikan dengan injustice atau ketidakadilan. Dalam al-Qur’an kata ”zalim” dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 315 kali. Ini menunjukkan bahwa kata ini merupakan salah satu konsep sentral dalam al-Qur’an. Toshihiko Izutsu, menyatakan bahwa merupakan varian dari sikap dan perilaku kufur atau ingkar. merupakan segi atau dimensi kekufuran. Kezaliman atau ketidakadilan juga menyangkut masalah hak, yaitu apakah seseorang memperoleh haknya atau tidak. Kezaliman terjadi bila hak-hak seseorang diingkari atau dilanggar. Kezaliman juga bermakna pelanggaran terhadap hukum, atau tindakan tanpa dasar. Hal inilah yang yang disebut dengan sikap dan perilaku yang sewenang-wenang, sikap dan perilaku yang tidak didasarkan nilai dan aturan. Zalim juga berarti kedustaan terhadap Allah adalah mengatakan dirinya beriman, padahal ingkar, mengatakan dirinya berbuat baik, tetapi sebenarnya berbuat jahat/salah. Mendustakan ayat-ayat Allah adalah menentang prinsip-prinsip kebajikan yang telah diajarkan agama. Keduanya adalah perbuatan yang pada esensinya berseberangan dengan prinsip keadilan, keduanya adalah kezaliman.

Senada dengan Izutsu adalah Muhammad Shahrur dalam al-Kitab wa al-Qur’an fi Qira’ah Muashirah yang menjelaskan bahwa sifat-sifat destruktif seperti kufur, dusta, zalim, fasik, merupakan kebalikan dari islam, iman dan ihsan. Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din menyebut perilaku destruktif sebagai akhlak yang membinasakan (akhlaq muhlikat).

Adapun yang dimaksudkan dengan bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; dan bahaya. Menurut Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana didefinisikan sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh proses alam atau ulah manusia yang dapat terjadi secara bertahap atau mendadak yang mengakibatkan kehilangan jiwa manusia, kerusakan dan kehilangan harta benda dan kerusakan lingkungan. Ada beberapa jenis bencana yang pernah terjadi di negara kita, antara lain; gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran hutan, kebakaran, letusan gunung berapi, gelombang pasang, tsunami, wabah penyakit.

Dalam Al-Qur’an kata bencana menggunakan istilah “bala”. Secara bahasa, al-bala’ bermakna al-ikhtibar (ujian). Menurut Imam al-Razi dalam Mukhtashar al-Shihah (hlm. 65), istilah bala’ sendiri digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun yang buruk. Syihab al-Din Ahmad dalam kitab al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an (juz 1, hlm. 85) menyatakan bahwa bala’ itu memiliki tiga bentuk; ni’mat (kenikmatan), ikhtibaar (cobaan atau ujian), dan makruuh (sesuatu yang dibenci). Di dalam al-Quran, kata bala’ disebutkan di enam tempat, dengan makna yang berbeda-beda; (Qs. al-Baqarah [2]: 49; Qs. al-A’râf [7]: 141; Qs. al-Anfâl [8]: 17; Qs. Ibrahim [14]: 6; Qs. ash-Shafât [37]: 106; Qs. ad-Dukhân [44]: 33). Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan). Bala’ dalam konteks ujian yang buruk, misalnya terdapat di dalam firman Allah SWT berikut ini: “Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 49).

Adapun bala’ dalam konteks ujian yang baik terdapat dalam firman Allah SWT berikut ini:
“Maka sebenarnya, bukan kamu yang membunuh mereka. Akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik (bala’an hasanan). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Anfâl [8]: 17). Menurut Imam al-Baidhawi dalam Tafsir al-Baidhawi, kata bala’ pada ayat di atas adalah kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman, yang berujud, pertolongan Allah (al-nashr), al-ghanimah (harta rampasan perang), dan al-musyahadah (mati syahid) (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 3, hal. 97).

Kata lain yang sering digunakan dalam kaitannya dengan bencana adalah kata “musibah”. Kata ini bermakna al-baliyyah (ujian) dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan, bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana) (Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 535). Menurut Imam al-Baidhawi, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw, “Setiap perkara yang menyakiti manusia adalah musibah.” (Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baidhawi, juz 1, hal. 431). Kata musibah disebutkan di sepuluh ayat, dan semuanya bermakna kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian, Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk menyakini, bahwa semua musibah itu datang dari Allah SWT, dan atas ijinNya. Allah SWT berfirman: “Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepadanya hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. al-Taghâbun [64]: 11).

Selain dua istilah di atas digunakan juga kata ‘azab. Kata ini berarti al-nakâl wa al-‘uqûbah (peringatan bagi yang lain, dan siksaan [hukuman]) (Imam Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, juz 1, hal. 585). Al-nakâl adalah peringatan yang berupa siksaan atau hukuman kepada yang lain. Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir. Allah SWT berfirman: “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Qs. al-Baqarah [2]: 7).“Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 10), dan lain sebagainya. Namun demikian, kata ‘adzab juga digunakan dalam konteks hukuman di kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:“Tak ada suatu negeripun yang durhaka penduduknya, melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab Lauh al-Mahfuudz.” (Qs. al-Isrâ’ [17]: 58). Menurut Ali ash-Shabuni, jika penduduk suatu kota ingkar atau bermaksiyat kepada perintah Allah SWT, mendustakan Rasul-rasulNya, niscaya Allah akan menghancurkan mereka, baik dengan kehancuran secara total (pemusnahan), maupun ditimpa dengan hukuman yang amat keras (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 2, hal. 165). Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman:“Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (Qs. al-Fath [48]: 25). Tatkala menafsirkan ayat ini, Ali ash-Shabuni mengatakan, “Seandainya orang-orang kafir itu dipisahkan satu dengan yang lain, kemudian dipisahkan antara yang mukmin dengan yang kafir, tentulah Allah akan mengadzab orang-orang kafir dengan adzab yang sangat keras, berupa pembunuhan, penawanan, maupun pengusiran dari negeri mereka-negeri mereka.” (Ali ash-Shabuni, Shafwât at-Tafâsîr, juz 3, hal. 48). Keterangan ini diperkuat dengan firman Allah SWT yang lain, yakni: “Dan jikalau tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengadzab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akherat adzab neraka.” (Qs. al-Hasyr [59]: 3).

Al-Qur’an menjelaskan beberapa penyebab datangnya azab, yakni kemaksiyatan (perbuatan dosa),, kezaliman dan kefasikan (durhaka). Sebagaimana firman-Nya “Dan tidak pernah Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman.” (Qs. al-Qashash [28]: 59). “maka tidak dibinasakan kecuali kaum yang fasik.” (Qs. al-Ahqâf [46]: 35). “Kami telah membinasakan mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa (al-mujrim).” (Qs. ad-Dukhân [44]: 37). Ayat-ayat di atas menunjukkan, bahwa ‘adzab Allah hanya akan dijatuhkan kepada penduduk negeri yang melakukan kedzaliman, kemaksiyatan, dan kefasikan. Sementara itu tidak ada yang melakukan pencegahan terhadap perbuatan dosa, kezaliman dan kefasikan. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” [HR. Imam Ahmad].Selain Allah SWT dapat mendatangkan azab karena perilaku destruktif manusia, azab juga dapat dilakukan oleh manusia itu sendiri, misalnya terjadinya pembunuhan, teror, pengusiran, dan sebagainya. Teror atau penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa yang zalim terhadap rakyatnya dapat menimbulkan siksaan dan penderitaan rakyat. Dalam sejarah Fir’aun pernah mengeluarkan maklumat untuk membunuh semua bayi laki-laki yang menimbulkan penderitaan kepada penduduk Mesir. Raja Nimrod yang membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup untuk menimbulkan terror kepada para penentang kekuasaannya.

Siksaan diberikan oleh Allah disebabkan karena kedurhakaan manusia dan mendustakaan ayat-ayat-Nya seperti siksaan yang menimpa kepada kaum Nabi Nuh, kaum Ad dan kaum Tsamud. Kaum-kaum tersebut telah dimusnahkan Allah SWT akibat pengingkaran mereka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfudz). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan tanda-tanda kekuasaan Kami) , melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 58-59).

Ali al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir (juz 2, hlm. 165) mengatakan bahwa Allah SWT telah menetapkan, bahwa orang-orang yang mendustakan tanda-tanda kekuasaanNya akan dimusnahkan Allah SWT. Tanda kebesaran Allah ini pernah diberikan kepada Rasul-rasul terdahulu; misalnya, unta betinanya Nabi Shaleh bagi kaum Tsamud. Sayangnya, kaum Tsamud mengingkari tanda kebesaran Allah ini. Akhirnya kaum Tsamud dimusnahkan dari muka bumi. Mayoritas ahli tafsir menyatakan, bahwa ayat ini berhubungan dengan permintaan orang-orang Quraisy kepada Nabi Saw agar beliau Saw menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai bukti kebenaran kenabian dan risalahnya. Akan tetapi, Allah SWT memberitahu Nabi Saw, bahwa jika Allah mengabulkan permintaan mereka, namun mereka tetap saja ingkar dan mendustakan tanda-tanda kebesaran Allah tersebut, niscaya mereka akan dimusnahkan, sebagaimana kaum-kaum terdahulu.

Siksaan Allah juga ditimpakan kepada manusia disebabkan para pemimpin dan para pembesar yang durhaka dan zalim. Allah menegaskan “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah SWT), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-Isrâ’ [17]: 16).

Dalam Ringkasan Tafsir Ibn Katsir (juz 2, hlm. 371), Ibnu ‘Abbas tatkala menafsirkan ayat ini menyatakan: “Maksud ayat ini adalah, jika Kami (Allah) telah memberikan kekuasaan kepada pembesar-pembesar di sebuah kota, kemudian mereka berbuat maksiyat di dalamnya, maka Allah SWT akan menghancurkan penduduk di negeri tersebut dengan ‘adzab.”

Dalam ayat lain, Allah SWT telah menggambarkan bahwa terjadinya kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perilaku destruktif manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. ar-Rûm [30]: 41).

Menurut Imam Baidhawi dalam tafsirnya yang dimaksud dengan kerusakan (pada ayat tersebut) adalah paceklik, al-jadb), kebakaran yang merajalela, ketenggelaman, hilangnya keberkahan, dan banyaknya kelaparan, akibat kemaksiyatan dan ulah perbuatan manusia. Sedangkan menurut Imam Ibnu Katsir, yang dimaksud kerusakan adalah berkurangnya hasil-hasil pertanian dan buah-buahan karena kemaksiyatan manusia. Sebab, baiknya bumi dan langit tergantung dengan ketaatan (Mukhtasar Tafsir Ibnu Katsir, hal. 57).

Al-Qur’an menjelaskan berbagai jenis bencana seperti banjir yang ditimpakan kepada umat Nabi Nuh; petir atau hawa panas yang menimpa bangsa ‘Ad, dan gempa bumi yang menimpa kaum Nabi Shaleh yaitu bangsa Tsamud. Mengenai bencana gempa Allah SWT. menegaskan, “lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan merekapun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka (QS. Al A’raf [7]:78-91). Sejarah membuktikan terjadinya azab yang menimpa bangsa-bangsa terdahulu sebagaimana juga diterangkan dalam Perjanjian Lama. Dalam hal ini Al-Qur’an menyajikan penjelasan yang lebih otentik mengenai siksaan yang ditimpakan kepada manusia karena keingkaran, dosa dan kedurhakaan mereka. Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). Allah berfirman, “(Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?". Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Lut dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri." Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (Q.S. 8 : Al A’raaf :[7]: 80-84)

Firman Allah, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”(QS. Al-An’am [6] 44); “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi ; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang . Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj [22]:11); “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.( QS 57:4)

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]:22); “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. 2:155); “Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan” (QS. 16:1); “Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram .Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu” (QS. 5:62); “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri” (QS. 30:9).

Firman Allah dalam QS. 40: 21-27, "Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir; maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras hukuman-Nya. Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta." Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab."

Selain dalam Al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah saw. menjelaskan bahwa terjadinya bencana didahului oleh perbuatan destruktif manusia. Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu , bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hai orang-orang Muhajirin; lima perkara, jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Alloh agar kamu tidak mendapatkannya: “Tidaklah muncul perbuatan keji (seperti: bakhil, zina, minum khomr, judi, merampok dan lainnya) pada suatu masyarakat, sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang sebelum mereka. Orang-orang tidak menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan kezaliman pemerintah, kehidupan yang susah, dan paceklik. Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allah turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan yang keras di antara mereka”.

Oleh karena itu tidak disangsikan lagi bahwa bencana terjadi disebabkan oleh perbuatan manusia, Fenomena alam pun membuktikan demikian. Sesuai dengan hukum aksi-reaksi. Bila alam diperlakukan negatif dan destruktif, maka alam akan memberikan reaksi yang sama. Ketika manusia sudah tidak memperhatikan alam, seperti membangun perumahan di daerah-daerah tempat serapan air, sehingga akan menimbulkan terjadinya banjir. Demikian pula bila hutan-hutan, gunung dan bukit digunduli maka akan menimbulkan terjadinya banjir dan longsor. Terjadinya global warming (pemanasan global) juga disebabkan oleh ulah manusia yang semena-mena. Allah SWT. berfirman, “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. al-Syura [42]: 30)

Kesimpulan

Menurut ayat-ayat Al-Qur’an dan tafir-tafsirnya dapat disimpulkan bahwa: Semua azab, bencana dan musibah tidak lepas dari kehendak dan ketentuan Allah SWT. Namun kehendak dan ketentuan Allah untuk menimpakan azab dan bencana disebabkan oleh perilaku destruktif manusia itu sendiri. Perilaku destruktif tersebut antara lain perbuatan dosa, maksiat, kefasikan, kekufuran dan kezaliman. Karena itu, menurut Al-Qur’an, berbagai bencana bukablah murni sebagai proses, skenario, dan fenomena alam saja, melainkan tidak terlepas dari perilaku destruktif manusia yang tidak lepas pula dari great design Allah SWT. Karena itu untuk meminimalisir terjadinya bencana, manusia seharusnya menjauhi perilaku destruktif dan memperbanyak perilaku yang konstruktif sehingga ada harapan (ekspektasi ) bahwa Allah SWT. akan memberikan rahmat, keselamatan dan keberkahan kepada umat manusia sebagaimana firman-Nya, “Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al-A’raf [7]: 96–97).


Oleh : Yoyo Hambali, MA.

· Penulis adalah Dosen Unisma Bekasi dan Pegiat Pencerahan Masyarakat